Artikel Terbaru

Beato Nunzio Sulprizio: Yatim Piatu Pandai Besi

Beato Nunzio Sulprizio: Yatim Piatu Pandai Besi
1 (20%) 1 vote

Situasi ini mendorong ibunya yang kala itu berumur 26 tahun terpaksa menikah lagi pada 1822. Pernikahan ibunya tak mendatangkan untung bagi Nunzio. Ia kerap disiksa dan dipukuli ayah tirinya.

Nunzio mulai belajar membaca dan menulis. Ia terus memupuk habitus doa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Baginya, Tuhanlah orangtua sejati. Ia menerima komuni pertama dari Uskup Sulmona-Valva, Italia, Mgr Francis Felice Tiberi CO (1818-1829). Ia sungguh bahagia karena bisa menyambut Tubuh Kristus.

Ibunya menyusul kepergian sang ayah pada 5 Maret 1823. Sejak kematian ibunya, Nunzio lebih senang tinggal bersama neneknya. Di tempat barunya, ia belajar tentang Yesus, Anak Allah yang menderita demi manusia. Namun, kebahagiaan tak bertahan lama. Lagi-lagi, neneknya wafat pada 4 April 1826, tiga tahun setelah menemaninya.

Pekerja Keras
Usai kematian tiga orang yang dikasihinya, hidup bocah ini berada dalam posisi sulit. Tak ada pilihan lain bagi Nunzio, selain pindah ke rumah Domenico Luciani, pamannya. Namun, pamannya bersikap kasar kepadanya. Ia dipaksa bekerja sebagai pandai besi.

Sambil bekerja, Nunzio tak lupa terus belajar. Ia masuk di sekolah untuk orang miskin yang didirikan Pater Fantacci. Ia ingin mengubah nasib, setidaknya hidupnya bisa berguna bagi orang lain.

Kala musim dingin melanda Pescara, ia tetap bercengkerama dengan lempengan-lempengan besi. Meski berat, semua ia kerjakan dengan tekun. Bahkan, selama bekerja ia tak mengenakan alas kaki. Beban kian berat karena ia harus pergi mengambil bahan mentah untuk dibuat menjadi lempengan besi. Ia tak mengeluh. Semua dijalani dengan senyum.

Kondisi itu berimbas pada kesehatannya. Sebuah luka pada telapak kaki kirinya mengakibatkan infeksi. Ia pun terjangkit gangren.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*