Artikel Terbaru

Novisiat Sananta Sela MSC: Batu Penjuru dari Kebumen

Novisiat Sananta Sela MSC: Batu Penjuru dari Kebumen
1 (20%) 1 vote

Novisiat MSC sendiri didirikan sebagai kelanjutan masa pranovisiat bagi calon biarawan MSC. “Dalam masa pranovisiat yang diadakan di Seminari Pineleng, Manado, pembinaan difokuskan pada pembentukan karakter. Di novisiat ini para novis dimatangkan karakternya, kehidupan pribadi sekaligus membangun kehidupan rohani sebagai seorang religius seturut spiritualitas Tarekat Hati Kudus.”

Membentuk Batu Penjuru
Pembinaan para novis sendiri dilakukan dengan tiga sarana yaitu konferensi (kegiatan belajar), proses dan latihan. Lewat konferensi para novis mendalami spiritualitas gereja, sejarah tarekat, konstitusi dan statuta, liturgi dan kehidupan membiara. Sementara proses terdiri dari sharing, refleksi pengendapan yang di wujudkan dalam rekoleksi, triduum dan lain-lain. Sedangkan latihan adalah kegiat an hidup harian yang menjadi sarana pembinaan iman dan pribadi.

Saat ini Romo Dwi selaku Magister didampingi oleh Romo Evaristus Angwarmase MSC dan Bruder Januarius Walter Suka MSC selaku socius. Mereka bertigalah yang sehari-hari memberikan pendampingan kepada para novis.

Dalam pembinaan para novis, melibatkan juga narasumber yang kompeten baik biarawan-biarawati mau pun awam. “Misalnya untuk psikoseksual kami mendatangkan pasangan suami istri untuk sharing sehingga kami memahami pergulatan awam dalam hal seksualitas,” tambah Romo Dwi.

Untuk memperluas wawasan, novisiat kerap menjalin kerja sama dengan lembaga lain, misalnya dengan para frater Diosesan Purwokerto yang menjalani Tahun Orientasi di TORSA Tegal, Jateng.

Sementara untuk membina aspek hubungan sosial, para novis kerap mengadakan kegiatan olahraga bersama umat. Mereka juga terlibat dalam tugas-tugas liturgi di gereja dan perayaan-perayaan hari besar gereja. Kebetulan gereja novisiat sekaligus merupakan gereja Paroki St. Yosef Pekerja Karanganyar.

Aspek hubungan sosial ini diperkuat dengan membangun kedekatan dengan masyarakat sekitar. Hal itu terwujud dalam kegiatan kemasyarakatan, olahraga dan lain-lain. “Mereka juga dibiasakan untuk menyampaikan ucapan selamat kepada warga sekitar setiap kali Hari Raya Idul Fitri,” kata Romo Dwi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*