Artikel Terbaru

Sr Marie Andrea Pandiangan KYM: Bonbon untuk Sahabat

Sr Marie Andrea Pandiangan KYM: Bonbon untuk Sahabat
1 (20%) 1 vote

Pada usianya yang kian senja, Sr Andrea amat bersyukur. Kehadirannya bersama rekan-rekan selalu disambut baik para warga binaan. Demikian pula sebaliknya, warga binaan merasa sangat di perhatikan oleh sang suster dan umat. Karya pelayanan Sr Andrea bak mercusuar di tengah pulau. Pancaran sinar kasihnya memberi arah dan harapan untuk mereka kembali ke jalan yang benar. “Saya gembira melakukan karya ini,” katanya singkat.

Kehadiran dan karya Sr Andrea ternyata tak hanya terpatri di dalam benak warga binaan. Keutamaan hidup serta semangat pelayanannya terpahat di angan para pegawai lapas. Mereka takjub dengan semangat, disiplin. Suster pertama asal Indonesia di Tarekat Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM) ini.

Tak ayal, suster yang mahir berbahasa Belanda ini mendapat penghargaan dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Sumatera Utara, pada April dua tahun silam. Apresiasi itu ia terima berkat totalitas dan kesetiaan mengunjungi serta melayani para sahabatnya yang mendekam di krangkeng besi.

Sariaantje dari Siantar
Nama Marie Andrea mulai melekat pada dirinya sejak 61 tahun silam, kala ia mengikrarkan kaul kekal sebagai anggota KYM di Belanda. Sebelum itu, namanya Sariaantje. Anak keempat dari delapan bersaudara ini asli Siantar. Tapak-tapak perjalanan panggilan Sariaantje bermula saat melanjutkan pendidikan ke sekolah guru di Medan, Sumatera Utara.

Enam bulan di Medan, Sariaantje tinggal di asrama putri. Asrama itu milik misi Katolik, dan Tarekat Suster KYM didapuk untuk mengelolanya. Relasi, teladan rohani, serta keutamaan hidup para suster KYM menumbuhkan benih-benih panggilan dalam diri anak pegawai Pos Indonesia itu.

Suatu hari, Sariaantje menghadap suster pembina asrama. Gadis yang aktif dalam pelayanan di Gereja sebagai anggota kor itu mengutarakan niatnya untuk menjadi biarawati. Mendengar isi hati anak asuhnya, suster pembina meminta Sariaantje bertemu dengan Bapa Rohani. Ternyata, Romo pendamping rohani sangat mendukung pilihan hidupnya.

Sebagai bentuk dukungannya kepada Sariaantje, sang pastor langsung mengirim surat kepada pimpinan Tarekat KYM di Belanda. Selang beberapa waktu kemudian, Bapa Rohaninya mendapat balasan dari Biara Induk KYM. Kop surat tersebut ditujukan kepada Sariaantje.

Sariaantje lalu membalas surat dari Tarekat KYM dalam bahasa Belanda. Dalam warkatnya, ia mengutarakan keteguhan hatinya untuk menjadi pelayan sesama sebagai anggota Tarekat KYM. “Jika pimpinan Tarekat KYM menanyakan kapan ingin menjadi suster, saya jawab kalau bisa sesegera mungkin,” bebernya sambil tersenyum.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*