Artikel Terbaru

Sr Marie Andrea Pandiangan KYM: Bonbon untuk Sahabat

Sr Marie Andrea Pandiangan KYM: Bonbon untuk Sahabat
1 (20%) 1 vote

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kerinduan Sariaantje menjadi suster menuai respon positif dari petinggi tarekat. Pada 8 Februari 1950, ia berlayar dengan kapal barang Kota Agung ke Negeri Kincir Angin untuk menjalani masa postulan. Pertama kali datang di rumah induk, ia disambut pembesar tarekat.

Meski demkian, Sariaantje tak mengelak, jika kala itu ia dipandang sebagai perempuan miskin dari negara bekas koloni bangsa mereka. Ia tak mau ambil pusing. Tujuannya sejak masih berada di Tanah Air hingga melintasi sejumlah negara hanya untuk satu hal, yakni menjawab panggilan-Nya.

Semangat yang sama juga ia rasakan selama menjalani masa pembinaan rohani di postulat. Pola pembinaan nan keras dan disiplin yang ketat tak sedikit pun mengendorkan cita-citanya. Syukur, setelah melalui beragam perjuangan, pada 6 Agustus 1954, Sariaantje mengikrarkan kaul kekal di Belanda dan memilih nama biara Marie Andrea.

Usai kaul kekal, Sr Andrea kembali kekampung halamannya. Sebagai suster muda, ia didapuk menjadi Kepala Sekolah Kepandaian Putri (SKP) Palipi, Sumatera Utara. Seiring waktu, nama sekolah itu berubah menjadi Sekolah Kesejahteraan Keluarga Putri (SKKP). Lantas sejak tahun 1976 hingga kini, sekolah itu ‘‘ganti sarung” menjadi SMP Negeri 1 Palipi.

Sepeda Kristus
Pada usia senjanya, selain merasul di lapas, Sr Andrea juga mengantar komuni untuk lansia dan orang sakit di sekitar biara. Dengan mengendarai sepeda biru, topi bundar besar, serta tas selempang hitam berisi Hosti, ia berkeliling lingkungan sejak pukul 09.00. Lalu pukul 16.00, ia kembali ke komunitas. “Ini sepeda Kristus. Saya mengantar-Nya dengan sepeda ini. Jadi tidak semua orang bisa memakai sepeda ini,” ujar Sr Andrea sambil tersenyum dan mengelus sepedanya yang sudah berusia 25 tahun.

Sr Andrea senantiasa gembira melakoni semua karya pelayanan di lapas dan mengirim Komuni. Ia bersyukur kepada Tuhan masih diberikan kekuatan untuk menemani dan melayani umat lanjut usia, sakit, dan yang sedang menghadapi sakratul maut. Di celah dua karya pelayanan itu, ia masih menyempatkan diri untuk memilah koran dan majalah guna di distribusikan kesejumlah komunitas suster KYM.

Fr Nicolaus Heru Andrianto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 45 Tanggal 8 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*