Artikel Terbaru

Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono: Mantan Misdinar Jadi Penerbang

Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono: Mantan Misdinar Jadi Penerbang
3 (60%) 2 votes

Menjadi penerbang Hercules, Wahyu hampir tidak pernah libur. Ia sering bertugas dalam misi kemanusiaan, di dalam maupun luar negeri. Wahyu juga pernah terlibat dalam operasi militer di Timor Leste dan Aceh. “Selama operasi militer itu saya bertugas mengangkut anggota TNI. Ketika bertugas membawa prajurit TNI antara Kupang-Dili, saya harus terbang malam hari dengan alasan keamanan,” ujar perwira yang ketika remaja aktif menjadi misdinar di Gereja St Robertus Bellarminus Cililitan, Jakarta Timur ini.

Mendidik penerbang
Pada 2004, Wahyu mendapat tugas belajar di Sekolah Instruktur Penerbang (SIP) selama enam bulan. Setelah lulus, Wahyu mengemban berbagai tugas, seperti Komandan Skuadron 104 Lanud Adisutjipto Yogyakarta, Kepala Dinas Operasi Lanud Adisumarmo Solo, Komandan Lanud Wolter Wonginsidi Kendari, Komando Operasi II Makasar, Komandan Wings Pendidikan Lanud Adisutjipto Yogyakarta. Sejak April 2015, ia mendapat mandat belajar di Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) di Bandung, Jawa Barat.

Selama ini, Wahyu banyak mendapat tugas mendidik calon-calon penerbang. “Tak mudah mengajari orang yang sama sekali belum pernah terbang agar bisa menjadi penerbang yang handal. Harus sabar dan selalu menanamkan kepercayaan diri kepada peserta didik. Kepercayaan diri harus dibangun, sebab tugas yang diemban penuh risiko,” kata Wahyu.

Seorang penerbang, ujar Wahyu, mesti memiliki konsentrasi yang tinggi, lantaran nyawanya bisa ditentukan hanya dalam hitungan detik. “Terlambat mengambil keputusan bisa hancur semua!” ujarnya tegas. Seorang penerbang harus hafal semua prosedur penerbangan.

Selama bertugas sebagai Komandan Wing Pendidikan Terbang Lanud Adisutjipto Yogyakarta,Wahyu juga menjadi supervisor Jupiter Aerobatic Team (JAT). Tim yang kini sering disebut The Jupiters ini adalah tim aerobatic TNI Angkatan Udara. Tim ini lahir dan dibentuk sebagai duta dan kebanggaan TNI Angkatan Udara. The Jupiters kerap tampil dalam pameran dirgantara, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Suatu ketika, Wahyu terbang dari Surabaya, Jawa Timur menuju Yogyakarta bersama para siswa. Setelah lepas landas, tiba-tiba cuaca berubah menjadi buruk. “Saya sama sekali tidak bisa melihat apaapa. Padahal, di depan dan belakang kami ada pesawat lain. Di atas pesawat itu kami benar-benar harus percaya dengan instrumen navigasi,” ujarnya bercerita.

Dengan pengalaman terbang selama lebih dari 5000 jam, Wahyu berusaha mengendalikan pesawat agar tetap di jalur. Ia pun menggunakan navigasi manual. Alhasil, penerbangan berjalan lancar. “Saat cuaca membaik, kami sudah berada di wilayah udara Wates. Pengalaman ini seperti orang berjalan dengan ditutup mata,” ujar pria yang gemar olahraga golf ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*