Artikel Terbaru

Pilar 22: Penjaga Rumah Tuhan

Pilar 22: Penjaga Rumah Tuhan
1 (20%) 1 vote

Sejak pertengahan 2010, Misa di kapel ini diadakan dua kali sebulan, pada Minggu kedua dan keempat. Para anggota P22 berperan dalam mempersiap kan Misa. Pada sore hari mereka membersihkan halaman kapel, mengatur kursi dan sound system. Beberapa anggotanya juga ada yang menjadi prodiakon membantu pelayanan sakramen di rumah-rumah umat.

Pengalaman Iman
Menurut salah seorang anggota P22, Setyo Supardi, keaktifannya di P22 tak serta merta mendapat dukungan keluarga. Istrinya kadang mengeluh karena setiap malam para anggota P22 jarang tidur di rumah. Hal itu juga dirasakan oleh anggota lain. Namun dengan berbagai penjelasan akhirnya para istri pun mengizinkan.

Anggota P22 sadar, aktivitas mereka memang tidak mendatangkan untung. Meski demikian rahmat dari Tuhan tak bisa disangka. “Suatu hari saya ketiduran dan dibangunkan istri. Dengan sedikit menggerutu saya terpaksa ikut berdoa di kapel. Tiba-tiba saya mendapat telepon dari teman untuk kerja lembur. Hasil lembur cukup untuk kebutuhan keluarga,” kisah Robertus Dwi Handoko.

Selain berjaga di area kapel, jika ada umat yang meninggal para anggota P22 akan berjaga bersama keluarga yang berduka pada malam hari. Jika ada umat yang butuh Sakramen Minyak Suci, mereka juga bersedia menjemput Romo.

Suatu malam, ada umat dari Tangerang yang datang ke Gereja karena mendengar ada kelompok yang setia berjaga pada tengah malam. Maksud kedatangannya meminta intensi untuk kesehatan. P22 menyambut baik kedatangan orang tersebut dan menjamunya dengan makan dan berdoa bersama.

Pengalaman lain suatu malam saat berdoa, tiba-tiba mereka didatangi enam ustad dengan memakai serban lengkap. Salah seorang ustad bertanya, “Kami melihat ada cahaya dari bangunan ini. Apakah ada yang tahu dari mana cahaya itu?” Para anggota P22 yang berjaga waktu itu tidak bisa menjelaskan fenomena yang terjadi karena mereka sedang berdoa. Setelah berbincang-bincang, para ustad itu punpergi. “Kami yakin semua pengalaman itu adalah tanda bagaimana Tuhan mendengar doa kami,” ungkap Anton Dwi.

Yusti H. Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 45 Tanggal 8 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*