Artikel Terbaru

Sr Maria Marta SND: Taat Memegang Wasiat

Sr Maria Marta SND: Taat Memegang Wasiat
1 (20%) 1 vote

Ponirah tak seperti itu. Kerinduannya menjadi biarawati tak lekang oleh waktu. Ia konsisten dengan cita-cita masa kecil. Sayang, kerinduannya menjadi suster terhalang restu sang ibu. Kasemi tak ingin putri sulungnya menjadi biarawati. “Kalau kamu masuk biara untuk menjadi suster, itu sama artinya membunuh saya pelan-pelan.”

Ponirah nelangsa. Ia tak berkutik. Lidahnya kelu mendengar penolakan ibu. Kata-kata Kasemi sontak mengubur cita-cita Ponirah. Liang harapan Ponirah menjadi suster kian tertimbun dalam, begitu mengetahui ibunya telah menyiapkan seorang pria untuk bersanding dengannya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, demikian nasib Ponirah. Cita-cita melayang, masa muda pun ikut hilang.

Kali ini giliran Ponirah menentang rencana ibu. Ia tak mau segera menikah, juga tak suka dengan pria idaman orangtua. Jika ibunda menolak keinginannya menjadi suster, demi membantu pendidikan adiknya, Aluysia Suyati, Ponirah ikhlas menyanggupi. Tapi, Kasemi bergeming. Ia tetap ingin anak sulungnya ke pelaminan.

Luluh Hati
Sejak Kasemi melontarkan ultimatum, Ponirah seperti memasuki lorong kelam. Ia tak mengharapkan masa depan itu tiba, sebab hanya sakit hati dan penolakan yang akan ia tuai dan jalani kelak. Hari demi hari berlalu. Ponirah kerap mengunci diri dalam kamar. Tapi sulit baginya memejamkan mata, walau sesaat.

Syukur, harapan Ponirah tak ikut lesap, meski impian masa kecilnya akan segera lenyap. Ia terus memohon kepada Tuhan agar meluluhkan hati ibunya. Hingga suatu hari, ia mendengar doa-doanya makbul. Alkisah, Ponirah mendengar ibunya memanggil keponakannya, Bardi.

Hari itu masih pagi. Kokok jago belum lama terdengar. Dari dalam kamar, Ponirah menangkap suara perempuan yang melahirkannya. “Bardi, cepat sapu semua halaman sampai bersih. Bu Lek-mu (Jawa: tante) mau masuk biara supaya mendapat jalan terang.” Ponirah nyaris tak percaya dengan seruan sang ibunda yang ia dengar.

Ponirah memastikan, ia sedang tak bermimpi. Ini jelas tak mungkin, sebab sejak malam hingga pagi, ia masih terjaga. Ponirah segera bangkit dari tempat tidur. Ia buru-buru keluar kamar, menemui, dan memeluk erat Kasemi seketika. Ia berterima kasih atas restu ibunda. “Inggih sendiko dawuh, Bu. Matur nuwun (Iya, saya akan melakukannya, Bu. Terima kasih-Red),” ujar Ponirah, begitu Kasemi menyampaikan pesan kepadanya. Kasemi berpesan agar Ponirah tidak menoleh ke belakang jika sudah masuk biara.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*