Artikel Terbaru

Sr Maria Marta SND: Taat Memegang Wasiat

Sr Maria Marta SND: Taat Memegang Wasiat
1 (20%) 1 vote

Kendati telah mengantongi restu sang ibu, ia tak segera mengirim lamaran ke
tarekat. Ini lantaran tak ada dalam benaknya, ke tarekat mana hati dan panggilannya bakal berlabuh. Namun suatu hari, Ponirah pergi ke RS Panti Rapih Yogyakarta. Ia melihat seorang biarawati mengenakan jubah dan kerudung panjang sedang merawat pasien.

Ponirah tertegun dengan karya suster itu. Belakangan, setelah menjadi anggota Tarekat SND, ia baru mengetahui, wanita berkerudung yang ia lihat di rumah sakit adalah koleganya saat ini. “Kok bisa ya?” ungkapnya, tertawa.

Demi mematangkan tekad, Ponirah menemui Sr Maria Tekla Kurniati SND. Segudang informasi soal SND ia dapat. Tanpa buang waktu, Ponirah segera mengeksekusi niatnya sejak dulu. Ia menyerahkan persyaratan dan mengikuti tes.

Hasil tes keluar, Ponirah diterima. Pada 15 Agustus 1974 atau dua hari pasca tes, ia masuk postulan SND di Pekalongan. Namanya berganti, dari Ponirah menjadi Sr Maria Marta SND.

Dia Mendengarkan
Sr Marta punya sebuah doa favorit. Doa itu senantiasa ia rapal tiap hari di depan Sakramen Mahakudus. Doa mantan Pemimpin Komunitas Notre Dame Jakarta itu amat ringkas, “Tuhan, kalau ini panggilan saya, berilah ibuku umur panjang. Aku tidak akan menyusahkan ibuku, sampai Engkau memanggilnya.”

Lagi-lagi doa suster yang hobi memasak itu makbul. Saat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sr Marta mendapat kabar dari sang adik tentang kondisi ibunda. Kasemi telah berada di ujung senja. Secara tersirat, Suyati ingin kakaknya kembali, sebelum terjadi sesuatu. “Kalau terjadi apa-apa dengan ibu, pokoknya jangan menyalahkan saya, ya Mbak,” ujar Suyati.

Ia memberanikan diri bertemu ibunya. Sudah amat lama ia tak pulang. Kasemi sempat tak mengenali putrinya, padahal Sr Marta yang memandikannya. Tiga hari kemudian, ingatan Kasemi mulai pulih. Pertemuan itu menjadi yang pertama sekaligus terakhir antara ibu-anak. Kasemi meninggal pada usia 105 tahun. “Ini semua anugerah Tuhan. Selama ibu hidup, apa yang terjadi padaku, tak pernah kuceritakan. Kata-kata ibu waktu itu merupakan wasiat yang harus kupegang dan jalankan,” ujar biarawati yang pernah didera penyakit getah bening ini.

Nicolaus Heru Andrianto/Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 12 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*