Artikel Terbaru

Kolonel Inf. Gabriel Lema: Darah Komando dari Ayah

Kolonel Inf. Gabriel Lema: Darah Komando dari Ayah
4 (80%) 1 vote

Jejak Ayah
Selama sekolah, mulai SD sampai SMA, Gabriel selalu berjalan kaki ke sekolah, menempuh jarak sekitar empat sampai lima kilometer. “Kadang saya melihat teman-teman diantar orangtuanya dengan sepeda motor atau angkot, namun saya tetap jalan kaki, sebab saya mengerti, kami tidak punya kendaraan,” kenangnya.

Di sekolah, Gabriel memiliki reputasi sebagai siswa cerdas. Namanya selalu
nangkring di barisan siswa berprestasi. Tak hanya cerdas, Gabriel juga teladan. Saat SMP, ia didapuk sebagai Ketua OSIS dan sekaligus Ketua Legio Mariae bagi kelompok siswa-siswi Katolik di sekolahnya. Setiap Jumat dan Sabtu, ia bersama rekan-rekannya selalu pulang terakhir guna mengadakan pertemuan keagamaan dan keorganisasian. Dalam kelompok Legio Mariae inilah ia mulai mengenal Rosario dan doa dengan berlutut tanpa alas lutut.

Prestasi akademik dan keteladanan Gabriel muda, menggelitik Sr Maria Dolorosa SSpS dan Sr Priscila SSpS. Kedua suster ini menawarkan Gabriel mengikuti tes masuk seminari. Di bangku SMA, tawaran serupa juga datang dari Br Sarto BHK, Kepala SMA Giovanni Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gabriel menceritakan tawaran ini kepada ibu dan kakak-kakaknya. Mereka menolak. “Kalau kamu masuk seminari, siapa yang akan meneruskan jejak Bapak?Kamu harus menjadi tentara, sebab dari saudaramu ini tidak ada yang mau masuk mengikuti jejak Bapak,” kata Gabriel menirukan kata-kata ibunya.

Selain kecakapan sikap dan kecerdasan, Gabriel memiliki modal fisik mumpuni untuk menjadi prajurit. Di sekolah, ia aktif berolahraga. Ia adalah bintang lapangan hijau yang populer di dunia persepakbolaan Kupang kala itu. Ia adalah bagian dari tim sepakbola Kupang yang berhasil merontokkan tim raksasa Gresik, Jawa Timur dalam sebuah kompetisi pada 1987.

Menjelang akhir kelulusan SMA, Gabriel memantapkan hati mengikuti jejak sang ayah. Ia ingin masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang, Jawa Tengah. Sembari melengkapi syarat-syarat, ia mengikuti tes saringan AKABRI di NTT. Gabriel mengingat persis jumlah peserta yang ikut tes saringan di Korem Kupang. “Ada 275 orang, yang lolos hanya sembilan orang, saya salah satunya.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*