Artikel Terbaru

Beato Engelmar Unzeitig CMM (1911-1945): Jalan Kudus Malaikat Dachau

Beato Engelmar Unzeitig CMM (1911-1945): Jalan Kudus Malaikat Dachau
1 (20%) 1 vote

Pada masa itu, PD II tengah berkecamuk di seluruh Eropa, termasuk Austria. Nazi semakin gencar menganiaya orang-orang Yahudi. Kondisi tak manusiawi itu memaksa Pastor Engelmar melancarkan kritik terhadap pemerintah Nazi. Dalam setiap khotbah, Pastor Engelmar selalu menyampaikan pesan cinta kepada sesama dan berusaha melindungi sesama yang tertindas. Katanya, “Kekejaman yang dilakukan Nazi kepada orang-orang Yahudi merupakan tindakan yang tidak manusiawi.”

Sepak terjang Pastor Engelmar tak lepas dari pengamatan Gestapo. Lama-kelamaan, kritik dan seruan Pastor Engelmar dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya. Gestapo tidak tinggal diam, mereka selalu memata-matai gerak-gerik Pastor Engelmar. Sepak terjangnya semakin dibatasi. Namun ia tidak gentar, bahkan demi orang Yahudi, ia rela mengorbankan nyawa.

Malaikat Dachau
Seruan cinta kasih itu berbuah petaka. Pada musim semi 1941, Gestapo bertindak. Pastor Engelmar ditangkap dan ditahan di Linz, Danube. Enam minggu kemudian, ia dipindahkan ke kamp konsentrasi Dachau. Tidak hanya Pastor Engelmar, ada banyak imam lain yang ditahan di tempat ini. Inilah yang menjadikan kamp konsentrasi Dachau dijuluki sebagai “biara terbesar di dunia”.

Saat dalam kamp, Pastor Engelmar menulis surat kepada adiknya. “Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita inginkan adalah rahmat yang membawa dan menuntun kita. Rahmat Tuhan yang Mahakuasa membantu kita mengatasi setiap kesulitan. Cinta kasih menggandakan kekuatan kita, membuat kita berdaya cipta, membuat kita merasa penuh dan bebas.” Surat ini menjadi pesan cinta untuk adik dan saudaranya yang lain.

Namun, dijebloskan di kamp konsentrasi tidak menyurutkan cinta dan perhatian Pastor Engelmar kepada yang lemah dan sakit. Pada 1944, ia justru menawarkan diri untuk merawat para tahanan yang sakit. Ketika itu wabah tipus sedang berkembang, Pastor Engelmar dengan sepenuh hati merawat setiap tahanan yang menderita penyakit mematikan ini. Lambat laun, penyakit ini juga menular dalam tubuh Pastor Engelmar. Tipus pun menggerogoti tubuhnya hingga tutup usia pada 2 Maret 1945. Atas cinta yang ditunjukkannya selama menjadi tahanan, ia kemudian dijuluki “Malaikat Dachau”.

Keteladanan dan kesucian hidupnya mengetuk pintu Vatikan untuk memulai proses penggelaran kudus baginya pada 26 Juli 1991, di Würzburg, Jerman. Pada 3 Juli 2009, ia dinyatakan venerabilis oleh Paus Benediktus XVI. Paus Fransiskus menyatakan Pastor Engelmar sebagai martir pada 21 Januari 2016, titik yang membuka jalan bagi beatifikasinya pada 24 September 2016. Misa Beatifikasi dipimpin Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Amato SDB di Würzburg, Jerman.

Antonius E. Sugiyanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 26 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*