Artikel Terbaru

Wajah Tuhan di Lingkungan Hijau

Wajah Tuhan di Lingkungan Hijau
4 (80%) 1 vote

Sementara di SD Mardi Waluya Rangkas Bitung, Bogor, di tempat itu mereka menanam pohon di sekitar lingkungan sekolah. Setahun berselang lingkungan sekolah menjadi lebih rindang. Pada Februari 2015 mereka juga mendukung penanaman pohon di Rangkasbitung, Banten dalam Bogor Youth Day.

Tak mau kalah dengan sekolah dan lingkungan paroki, tarekat-tarekat di Keuskupan Bogor juga menjalankan gerakan pro lingkungan. Misalnya tarekat Carolus Borromeus (CB) di Rumah Petret Puspanita-Bogor, Imam-imam Congregatio Pasionis (CP) di Kebun Pasir Muncang, Ordo Fratrum Minorum (OFM) di Kebun Organik Ciloto, dan Ordo Societas Verbi Divini (SVD) di Tugu, Cisarua. Secara umum, gerakan penghijauan tarekat-tarekat ini menyasar pada penghijauan dan pertanian organik.

Kerja Sama
Keuskupan Bogor tidak hanya aktif di lingkup Gereja. Dalam setiap pertemuan dengan Wali kota Bogor, Bima Arya Sugiarto dan jajaran Muspida, Romo Endro selalu menawarkan kepada pihak pemerintah untuk melibatkan Gereja Katolik dalam melaksanakan penghijauan di Kota Bogor. Mereka berusaha menyumbang tenaga juga dana untuk kegiatan itu.

Selain mendukung gerakan penghijauan, Keuskupan Bogor juga menawarkan diri untuk menaburkan benih-benih ikan di beberapa situ di Bogor. Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor menyambut baik niat itu. Langkah pertama, Keuskupan Bogor menyediakan seratus ribu benih ikan untuk ditaburkan di danau Tonjong di Bojong Gede. Sebelum menabur benih, mereka mengundang tim peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menelaah kualitas air dan jenis ikan apa yang cocok untuk danau tersebut. Rencana ini masih menunggu bulan Desember nanti karena pertimbangan iklim, peneliti dari IPB menganjurkan ikan ditabur saat sudah masuk musim hujan.

Melalui gerakan peduli lingkungan ini, Gereja ingin memberikan teladan kepada umat dan masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan hidup. Gerakan ini menciptakan relasi yang harmonis antara umat, pemerintah dan pemeluk agama lain. “Tujuan teologisnya, menghadirkan wajah Tuhan itu tidak hanya rumusan kata. Tetapi menciptakan lingkungan hidup menjadi hijau, asri dan indah. Karena Allah sendiri indah adanya,” pungkas Romo Endro. Selain di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor, beberapa keuskupan lain di Indonesia juga telah mulai mendengungkan ensiklik Laudato Si’.

Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 44 Tanggal 1 November 2015

 

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*