Artikel Terbaru

St Aegidius dari Athena (650–710): Menemukan Logos Sejati dalam Sunyi

St Aegidius dari Athena (650–710): Menemukan Logos Sejati dalam Sunyi
1 (20%) 1 vote

Pada masa itu, keluarga Aegidius tengah berperang melawan Persia dan Sparta. Kondisi ini menjadikan Aegidius mulai dididik dalam disiplin militer di bawah bimbingan panglima perang kerajaan. Thodore berniat mengangkat anak semata wayangnya sebagai raja kelak. Berkat latihan militer ini, Aegidius memiliki kemampuan yang hebat dalam bermain pedang. Hal ini membuat banyak gadis kerajaan jatuh hati padanya.

Tiga abad sebelumnya, Alexander Agung dari Makedonia (323-356) menaklukan Yunani. Seiring dengan peristiwa ini, peradaban hellenis pun berkembang cukup kuat sampai ke Kekaisaran Romawi. Perjumpaan budaya Roma-Hellenis membantu berkembangnya ajaran Kristen di Yunani. Herodotos (655), bapak sejarah Yunani dalam Historia-nya menulis, “Perjumpaan ini melahirkan kepercayaan baru kepada Allah.”

Ajaran Kristen pun pelan-pelan menyusup masuk ke Athena. Pada zaman ini, terjadi peralihan dari mitos ke logos. Banyak filsuf tidak lagi membicarakan tentang alam semesta dan kekuasaan adikodrati (dewa-dewi). Topik-topik seperti cara menahan hawa nafsu, ilmu logika, etika, fisika, metafisika, estetika, dan epistemologi menjadi diskursus filsafat yang digemari para penguasa.

Diskursus filsafat ini pun mengakar di Yunani. Aegidius juga tertarik mendalami aneka diskursus filsafat dan ajaran Kristen. Ia melihat, ajaran baru ini seakan menyempurnakan mitologi yang dianutnya. Meskipun percaya, Aegidius membutuhkan bukti. Herodotos menulis, bukti itu menjadi nyata setelah Yunani memenangkan Perang Lelantin (710), yaitu pertempuran antara Polis (Negara-Kota) Khalkis dan Eretria dalam memperebutkan lahan subur Euboia, Athena.

Pelan-pelan periode perang berubah menjadi situasi tenang. Peradaban baca tulis di Athena musnah dan aksara Mykenai dilupakan masyarakat Athena. Alfabet Punisia diadopsi Athena untuk perkembangan dunia pendidikan. Yunani yang saat itu terdiri dari banyak komunitas kecil yang berdaulat, terbentuk sesuai pola geografis Yunani menjadi satu kesatuan. Kaum saudagar beramai-ramai mengunjungi Athena, membuat rezim kaum aristokrat yang lalu memerintah polis.

Kehadiran para saudagar dengan bantuan tiran populis dan berkembangnya budaya Romawi membuat Aegidius semakin yakin akan panggilannya menjadi orang Kristen. Ia mulai membuka komunikasi dengan para saudagar yang datang dari Yunani Besar (Italia Selatan dan Sisilia), Asia Minor dan wilayah Kristen lainnya. Pada periode ketika masyarakat Yunani mengalami perkembangan ekonomi pesat, Aegidius memutuskan menjadi pertapa.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*