Artikel Terbaru

St Aegidius dari Athena (650–710): Menemukan Logos Sejati dalam Sunyi

St Aegidius dari Athena (650–710): Menemukan Logos Sejati dalam Sunyi
1 (20%) 1 vote

Sang Logos
Ketika rencananya matang, kabar duka datang kepadanya. Sang ayah meninggal dunia. Tak lama berselang, sang ibu menyusul. Dua peristiwa ini membawa duka mendalam bagi pangeran dan seisi kerajaan. Ia mulai digadang-gadang sebagai Raja Athena. Sebagai ahli waris kerajaan, Aegidius menolak tawaran itu dan memilih orang lain untuk memimpin kerajaan. Ia meminta kepada penasihat kerajaan agar sebagian warisan milik orangtuanya diberikan untuk menolong orang-orang miskin di Athena. Masyarakat Athena takjub akan ketulusan hatinya.

Dalam situasi pujian tersebut, Aegidius berpikir untuk meninggalkan Athena.
Perjumpaannya dengan kekristenan membawanya berlayar sampai ke Perancis Selatan. Di sana, ia hidup seorang diri dalam kegelapan Hutan Rhône. Ia tinggal dalam gua di balik semak belukar yang rimbun.

Di hutan sepi itu, Aegidius berteman dengan serigala, rusa, burung, kijang, serta binatang lainnya. Konon, setiap hari ia minum dari susu kijang dan makan sayur-sayuran yang ada di sekitarnya. Tetapi tubuhnya tetap sehat dan gemuk. Ia sehat dan penuh kebijaksanaan. Ia sama sekali tidak berhubungan dengan dunia luar, termasuk dengan Kerajaan Athena.

Suatu hari, Raja Childebert III dan para pengawalnya pergi berburu ke hutan
Rhône. Tak sengaja mereka bertemu Aegidius di tengah hutan itu. Perjumpaan ini membuat raja takjub akan kerendahan hati Aegidius. Raja lalu mendirikan Biara St Giles du Gard untuknya. Ia menjadi pemimpin biara untuk diri sendiri dan binatang di sekitarnya. Namun, aturan keagamaan, seperti doa, mati raga dan ajaran tentang Sang Logos selalu ia lakoni. Dalam refleksi panjang, ia menemukan bahwa Sang Logos sejati adalah Allah.

Aegidius terus menjadi pertapa hingga maut menjemputnya tahun 710. Jazadnya dimakamkan di biara miliknya. Kini biara tersebut dikelola oleh para Benediktin Regio Perancis. Makamnya hingga saat ini tak pernah sepi peziarah. Setiap tahun, banyak orang datang berdoa dan memohon kesembuhan dari berbagai penyakit, khususnya mereka yang cacat dan terluka.

Aneka kisah mukjizat penyembuhan tersebar dari Septimania hingga ke Languedoc, dari Toulouse hingga seluruh dataran Eropa. Atas dasar itu, Takhta Suci setuju untuk membuka proses penggelaran kudusnya. Tahun 1862, makamnya digali. Setelah digali, tubuh Aegidius terlihat masih utuh dan tak berbau. Ia digelari kudus tahun 1865.

Di beberapa negara Eropa, namanya diabadikan sebagai pelindung. Di Perancis dan Skotlandia, ada Gereja Katedral St Aegidius. Ia dikenang Gereja sebagai pelindung kaum difabel. Pestanya dirayakan setiap 1 September.

Yusti H. Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 9 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*