Artikel Terbaru

Beato Justo Takayama Ukon (1552–1587): Samurai Sejati Pembela Kristus

Beato Justo Takayama Ukon (1552–1587): Samurai Sejati Pembela Kristus
3 (60%) 2 votes

Ketika beranjak dewasa, sang ayah memberi sebuah katana kepadanya.
Katana dalam tradisi Jepang dipercaya sebagai roh dari para samurai. Dalam setiap pertempuran, katana itu selalu ia gunakan. Dalam sebuah ritual genpuku, Ukon diterima sebagai seseorang yang layak menjadi ksatria samurai. Karena semangat samurai ini, ia menjalani hidup sebagai pribadi yang loyal, disiplin, dan beretika. Ukon selalu menjaga kehormatan keluarga. Bahkan demi sebuah kehormatan, ia tak takut melakukan seppuku, tradisi bunuh diri dengan cara menyobek perut menggunakan katana sebagai tanda menjaga kehormatan.

Ukon sangat dekat dengan Shogun Toyotomi Hideyoshi (1537-1598) dan bersedia mati bagi mereka. Dalam setiap pertempuran, ia berdiri paling depan sebagai panglima perang bersama sang ayah. Dalam sejarah Jepang, keduanya pernah memenangkan pertempuran memperebutkan Kastil Takatsuki, Osaka. Usai perang, mereka diangkat oleh Shogun Hideyoshi (1537-1598) menjadi Daimyo atau penguasa suatu wilayah yang pengaruhnya menentukan wilayah tersebut. Mereka memiliki hak atas tanah dan memiliki banyak bushi sebagai pengikut. Setelah menjadi Daimyo, Ukon mengajarkan agama Kristen kepada para bushi-nya.

Memasuki usia 29 tahun, Ukon menikah; seorang gadis saleh dan dikaruniai tiga putra dan seorang putri. Ia menjadi kepala keluarga yang saleh dan taat. Kepada empat anaknya, Ukon mengingatkan agar mereka terus mempraktikkan hidup Kristiani dan ketaatan serta kesalehan sebagai keluarga Kirishitan (Kristen).

Melarikan Diri
Pada abad XVI, para pedagang dan misionaris Eropa tiba untuk pertama kali di Jepang mengawali periode Perdagangan “Nanban” (“Barbar dari Selatan”, untuk menyebut orang Eropa Selatan). Perjumpaan ini diikuti pertukaran perniagaan dan kebudayaan antara Jepang dan Dunia Barat. Pada masa yang sama, Oda Nobunaga (1534-1582) diganti oleh Hideyoshi. Penguasa baru ini berperan besar mengontrol perniagaan. Tetapi ia kemudian menjadi penguasa yang tidak disukai, meski kejeniusannya dalam strategi militer tidak dapat disangkal.

Keinginan Hideyoshi untuk menjajah Korea dan sempat mengirimkan pasukan ke sana, membuat namanya tercemar dalam sejarah Jepang. Shogun Tokugawa Ieyasu (1543-1616) akhirnya yang menyatukan negara tersebut setelah memenangkan Pertempuran Sekigahara (1600).

Shogun Ieyasu lalu memindahkan ibukota negara ke Edo (kini: Tokyo). Tetapi ke-shogun-an Tokugawa ditandai dengan kecurigaan kepada para misionaris. Ia akhirnya mengusir para misionaris keluar dari Jepang bersama semua orang Kristen yang ada di Jepang.

Ukon menolak keputusan Shogun Ieyasu. Pada 1588, Ukon diasingkan ke Kyushu. Shogun Ieyasu memberikan mandat kepada Maeda Toshiie (1583-1589) untuk menyebarkan rumor bahwa Ukon menolak mengabdi kepada Shogun.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*