Artikel Terbaru

Gereja Hadir dalam Keluarga Buruh

Gereja Hadir dalam Keluarga Buruh
1 (20%) 1 vote

Selaras dengan Jumisih, Litbang Pengurus Pusat dan juga Ketua Bidang Multimedia FBLP, Ari Widiastari juga berempati dengan teman-teman pekerjanya. Berangkat dari keluhan para buruh perempuan dalam diskusi atau di sela-sela rapat forum, akhirnya mengilhami FBLP untuk membuat TPA ASA. TPA ASA berperan sebagai rumah pengasuhan anak dan rumah pendidikan anak usia dini. TPA ASA terbentuk pada 2016, berlokasi di Semper Barat, Jakarta Utara. Rumah pengasuhan ini menyediakan pelayanan dari pagi hingga sore. Di sana, anak-anak bisa belajar dalam permainan, makan, mandi, tidur siang, dan lain-lain.

Ari mengungkapkan, tenaga pendampingan anak di TPA ASA sudah melewati pelatihan yang tepat. FBLP bersama dengan BPB-LDD bahkan memberikan pelatihan dua minggu sekali tentang parenting. “Sekarang tinggal bagaimana kita terus mempublikasikan TPA ini agar para pekerja perempuan tidak resah lagi saat harus bekerja,” jelas Ari.

Meski bertujuan mulia yakni membantu meringankan beban buruh perempuan, terutama dalam tugas mengasuh anak, toh kehadiran TPA ASA tidak berjalan mulus-mulus saja. Ada saja kendala yang dihadapi para pegiat sosial ini. Ari mengatakan, meski gencar melakukan publikasi tentang TPA ASA, namun belum banyak pekerja yang menitipkan anaknya. “Karena lokasi TPA memang agak jauh dari Kawasan Berikat Nusantara (Kawasan Industri Cilincing-Red). Jalurnya muter-muter, cukup memakan waktu untuk antar jemput anak,” urai Ari.

Selain jarak, kendala lain datang dari rasa tidak enak para pekerja kepada tetangganya untuk “memutuskan” penghasilan tetangganya yang didapat dari menitipkan anak mereka. Kondisi itu membuat BPB-LDD dan FBLP menawarkan solusi dengan memberikan pelatihan khusus bagi para tetangga tersebut agar tahu cara mengasuh anak yang baik dan benar. Awalnya banyak yang hadir, namun lama-kelamaan “melempem”.

Meski sampai sekarang baru ada dua anak di TPA ASA, tapi Ari yakin, ke depan akan semakin banyak anak yang mau dititipkan di sana. “Kami juga sedang memikirkan untuk pindah lokasi lebih dekat dengan kawasan industri, sehingga lebih mudah diakses,” tuturnya.

Paroki Salib Suci Cilincing, yang teritori parokinya dekat dengan KBN, baru memulai perhatian terhadap kaum buruh melalui Seksi Keadilan dan Perdamaian (SKP). Meski baru dibentuk, menurut Koordinator SKP, Bastian Tembaru, ini sudah lama menjadi perhatian Paroki. “Bentuk pendampingan yang ada masih sebatas mendengarkan keluhan mereka. Nantinya, SKP menjadi wadah untuk membantu menyelesaikan masalah lewat advokasi.”

Marchella A. Vieba
Laporan: Karina Chrisyantia

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tanggal 23 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*