Artikel Terbaru

Laurentius Sugiri Willim: Rindu Giri pada Seni

Laurentius Sugiri Willim: Rindu Giri pada Seni
1 (20%) 1 vote

Tak hanya mural, Giri juga merias ulang patung Bunda Maria dari Fatima di lokasi yang berada tak jauh dari taman doa. Pada waktu itu, kenangnya, wajah patung Bunda Maria terlihat bengep. Padahal kata seorang suster Gembala Baik, patung itu didatangkan langsung dari negara asalnya, Portugal. Giri gusar, tampilan patung itu tak elok.

Ketika Giri merapikan, ternyata patung itu sudah tujuh kali pengecetan ulang, tanpa mengerok cat lama. Wajar jika wajah Bunda Maria terlihat tembem. “Rupanya yang mengerjakan bukan seniman, tapi tukang. Butuh sebulan saya mengembalikan patung ke rupa semula,” ujarnya.

Giri selalu menolak uang pemberian suster untuk karya-karyanya. Ia beralasan, uang itu bisa dipakai untuk karya pelayanan lain. “Malah, Pak Giri yang hampir selalu bertanya kepada kami, ‘apa yang bisa saya bantu, Suster?’” tambah Sr Endah.

Awal Perkenalan
Perkenalan perdana Giri dengan komunitas RGS terjadi sekitar sepuluh tahun lalu. Kala itu, kenang umat Paroki St Gabriel Pulo Gebang, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini, seorang suster Gembala Baik di Kefamenanu menghubunginya. Biarawati itu mendapat nomor kontak Giri dari wartawan.

Dari wartawan pula, suster itu mendapat informasi bahwa Giri bersama rekan-rekan perupa dari komunitas Seni Rupa Kristen Indonesia (Seruni) menggelar pameran lukisan. Pameran yang berlangsung di Sari Pan Pacifik Jakarta untuk menggalang dana kemanusiaan. Suster itu berterus terang kepada Giri. Ia butuh bantuan untuk para pengungsi.

Gayung bersambut, respon komunitas Seruni positif atas permohonan itu. Maka, hasil penjualan lukisan selama pameran, mereka berikan kepada biarawati itu. Perjumpaan itu rupanya membekas dalam sanubari Giri. Komunikasi di antara mereka pun berlangsung intens. Seiring waktu Giri kian mengenal dan terkesan dengan karya RGS.

Para Suster Gembala Baik, menurutnya, tulus melayani. Bagi Giri, jika orang gemar dan mudah membantu atau melayani orang lain, itu berarti mereka sudah kelar dengan kepentingan pribadi atau egonya. “Karena itu, saya berusaha membantu mereka sebisa saya. Itu pun sesuai dengan kemampuan saya, yakni melukis,” kata Giri yang sejak tiga tahun lalu senantiasa membarui komitmennya sebagai anggota mission partners Gembala Baik.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*