Artikel Terbaru

Bambang Winariyo: Pesan Pluralitas Sang Seniman

Bambang Winariyo: Pesan Pluralitas Sang Seniman
1 (20%) 1 vote

Bambang butuh waktu empat bulan untuk menyelesaikan rangkaian patung jalan salib itu. Proses yang lama itu, kata Bambang, karena ia ingin memunculkan karakter penderitaan Yesus di jalan salib. Misal, ekspresi Yesus yang kesakitan akibat dicambuk. Pun begitu dengan karakter para prajurit Romawi yang beri ngas. “Tujuan seni menyampaikan sesuatu dengan tegas.”

Untuk memunculkan karakter Yesus di jalan salib itu, Bambang kerap berselancar di dunia maya dan menonton film atau dari Alkitab. “Sebuah patung harus memiliki karakter, watak, dan ekspresi yang hidup, maka butuh penghayatan saat membuatnya.”

Karya penggemar olahraga bola kaki ini juga bisa ditemui di Gereja St Petrus
Paulus Mangga Besar yang ia buat di awal milenium. Patung dua santo pelindung itu nampang gagah di panti imam. St Paulus di kiri dan St Petrus di kanan. Ia juga membuat patung St Maria di Paroki St Servatius Kampung Sawah. “Saya bukan baru dengan Gereja Katolik, dari SD-SMA saya sekolah di sekolah Katolik,” kenangnya.

Merawat Pluralitas
Jejak jari seniman Bambang juga ada di beberapa Klenteng Budha. Misal, di Klenteng Budha Angke Grogol, ada patung Tong Sam Chong; biksu dalam cerita Kera Sakti. Patung berbentuk duduk bersila itu menjadi patung sentral di klenteng. Kepada beberapa biksu Budha, Bambang tak sungkan bertanya tentang tokoh Tong Sam Chong. Berdasarkan narasi mereka, ia membuat patung. Jauh sebelum itu, pada masa mudanya, Bambang juga membuat patung sembilan tokoh suci Budha di Probolinggo, Jawa Timur, kota kelahirannya.

Karya-karyanya banyak mendapat pujian. Beberapa kolektor besar dan pejabat seperti Surya Paloh hingga Fadli Zon memesan patung kepada Bambang. Umumnya, patung pesanan mereka berkisar pada tokoh dunia, seperti John Fitzgerald Kennedy, Nelson Mandela, hingga Soekarno. Surya Paloh mengoleksi beberapa patung, seperti Michael Gorbachev, Fidel Castro hingga sebuah patung perempuan menari setinggi tujuh meter.

Bambang telah membuat empat patung Mahatma Gandi, yang berukuran sama dengan Gandhi yang asli. Fadli Zon mengirimkan salah satu patung ke Yayasan Gandhi di India. Satunya lagi disimpan di Rumah Budaya Nagari Ai Padang. Gurjit Singh, Duta Besar India untuk Indonesia datang langsung meresmikan patung perunggu tokoh India itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*